Peran Sekolah Inklusi untuk Pemenuhan Kebutuhan Pendidikan yang Layak bagi Anak Disabilitas dan Kusta

Di Indonesia jumlah anak berkebutuhan khusus atau ABK, baik bawaan maupun karena suatu penyakit, seperti kusta cukup banyak. Jika dilakukan pendataan, jumlahnya akan terus bertambah karena banyak belum terdaftar sebelumnya.

Seperti anak-anak pada umumnya, anak berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas juga mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Sayangnya belum banyak sekolah formal yang mampu menampung dan memfasilitasinya. Sedangkan jumlah Sekolah Luar Biasa atau SLB terbatas. Jika ada belum tentu dekat dengan tempat tinggal sehingga mobilitas sulit.

Sekolah Inklusi Sebagai Jawaban

Penyandang disabilitas baik bawaan lahir maupun karena penyakit sebenarnya mempunyai potensi yang sama dengan lainnya.

Bahkan tidak sedikit yang mempunyai kecerdasan dan keterampilan di atas rata-rata.

Dengan dukungan yang tepat, kelebihan ini dapat menjadi salah satu cara untuk mendapatkan kemandiriannya di masa mendatang.

Anak disabilitas mempunyai potensi untuk menempuh pendidikan di sekolah formal umum.

Saat ini sudah ada beberapa sekolah yang merintis sistem pendidikan yang dikenal sebagai sekolah inklusi.

Salah salah satunya SDN Rangga Watu Manggarai Barat. Sekolah inklusi merupakan sekolah umum yang memberikan pendidikan pada siswa disabilitas.

Selama proses belajar sekolah inklusi tidak membedakan antara siswa biasa dengan penyandang disabilitas.

Ini yang justru memberikan rasa percaya diri pada anak disabilitas dan kenyataannya mereka dapat mengikuti pendidikan tanpa gangguan berarti. Namun perlu guru yang dapat memfasilitasi sehingga proses belajar dapat berjalan dengan baik.

Untuk memberikan lebih banyak informasi pada masyarakat mengenai sekolah inklusi, Ruang Publik KBR dengan NLR Indonesia menggelar live YouTube. Hadir sebagai pembicara:

  • Anselmus Gabies Kartono – Yayasan Kita Juga (Sankita)
  • Fransiskus Borgias Patut – Kepala Sekolah SDN Rangga Watu Manggarai Barat
  • Ignas Carly, Siswa kelas 5, SDN Rangga Watu Manggarai Barat (Testimoni Disabilitas)

Apa yang dirintis oleh bapak Fransiskus Borgias Patut di SDN Rangga Watu pantas menjadi contoh bagi sekolah lain. Meskipun merupakan sekolah reguler, SDN Rangga Watu berani menerima murid disabilitas.

Saat ini jumlahnya mencapai 7 siswa. Dalam penerimaan siswa disabilitas, sekolah inklusi ini sengaja tidak mengumumkan secara terbuka.

Tujuannya adalah agar siswa lain dan orang-orang di lingkungan sekolah tidak memberlakukan siswa disabilitas secara berbeda.

Sekolah inklusi sendiri bertujuan untuk memberi kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk mendapatkan pendidikan seperti anak yang lain dan mendapat perlakuan sama.

Pengalaman Peserta Didik

Dalam live YouTube tersebut penyelenggara mengundang salah satu siswa disabilitas dari SDN Rangga Watu, Ignas Carly.

Saat ini Ignas duduk di kelas 5. Menurut pengalamannya, bocah yang terlihat selalu ceria tersebut sangat senang bersekolah dan mempunyai banyak teman di sekolah inklusi.

Ignas mendapat perlakukan sama dan kesempatan yang tidak berbeda pula. Anak periang tersebut bercerita dengan antusias.

Cita-citanya menjadi pemain bola dan guru. Pengalaman di sekolah inklusi akan menjadi bekal terbaik untuknya dalam menggapai cita-cita. Apalagi lingkungan sekolah sangat support semua kegiatan dan impiannya.

Kendala yang Dihadapi Sekolah Inklusi

Disadari atau tidak, untuk mendidik anak disabilitas perlu keterampilan khusus. Ini yang tidak dimiliki oleh semua pendidik. Jumlah guru yang mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dalam proses belajar mengajar masih terbatas. Tidak semua sekolah memiliki guru dengan kriteria tersebut.

Kendala ini yang menjadikan tidak semua sekolah bisa melaksanakan program inklusi untuk memfasilitasi siswa disabilitas.

Permasalahan ini perlu mendapat penanganan secepatnya agar semakin banyak anak disabilitas yang dapat merasakan pendidikan di lingkungan normal.

Santika Hadir Memberi Solusi

Untuk mencari solusi mengenai keterbatasan tenaga pendidik ini harus dilakukan oleh semua pihak. Saat ini Yayasan Kita Juga atau Santika hadir memberikan solusi.

Menurut Anselmus Gabies Kartono, perwakilan dari Santika, Yayasan ini membantu untuk memberikan bekal pada para guru.

Santika melakukan beberapa upaya untuk memberikan kemampuan pada guru menjalankan program sekolah inklusi. Caranya dengan:

Melakukan pengenalan dan assessment tentang anak berkebutuhan khusus

Membuat strategi dan perencanaan dalam proses pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus.

Program dan dukungan dari semua pihak tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan sekolah untuk menjalankan program inklusi. Dengan demikian jumlah anak disabilitas yang dapat mengenyam pendidikan formal semakin bertambah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *