Bersama Sri Irdayati Mencetak Jiwa Miliuner Sejak Dini

Dunia usaha memang seringkali mengalami pasang surut yang tidak terduga. Dalam satu waktu bisa mendapatkan banyak keuntungan, namun hanya beberapa saat bisa habis semua. Begitu juga sebaliknya. ini yang membuat tidak sedikit orang lebih memilih aman dengan bekerja sebagai karyawan yang mendapat gaji tetap.

Sedangkan daya serap lapangan pekerjaan terbatas. Jumlah pengusaha atau entrepreneur juga bisa mempengaruhi status suatu negara secara ekonomi, apakah masuk dalam klasifikasi tertingga, maju atau modern.

Sadar mengenai hal ini, mengusik pemikiran Sri Irdayati. Perempuan kelahiran Pulau Kalimantan ini sejak dulu tidak pernah bermimpi menjadi karyawan. Keinginannya adalah mempunyai usaha dan mengembangkan bisnis. Sebagai pebisnis, jika handal mudah untuk menjadi miliuner dibanding sebagai karyawan.

Pemikiran bahwa ide dan konsep wirausaha harus ditanamkan sejak dini membuat perempuan yang saat itu masih berstatus mahasiswa di Universitas Diponegoro, Semarang mempunyai ide untuk membangun kewirausahaan pada anak-anak.

Namun ternyata seperti dugaannya. Dari sekian sekolah yang pernah dimasukinya untuk menawarkan program pendidikan kewirausahaan, hampir semua menolak.

Ide dan strateginya untuk menyampaikan gagasan tentang pelatihan kewirausahaan sejak dini tidak berhenti meski banyak tantangan dan rintangan. Bersama teman-temannya sesama mahasiswa Undip, Irda, begitu dia biasa disapa terus menyampaikan gagasannya tersebut.

Penolakan yang diterima, baik dari pihak sekolah maupun orang tua murid adalah bahwa usia anak-anak belum pantas mengenal bisnis, mereka harus fokus belajar pelajaran sekolah. Ada lagi yang beranggapan bahwa jika anak-anak mengenal bisnis, nantinya akan menjadi matre. Tentu hal tersebut tidak benar.

Bersama tiga temannya, Irda membawa konsep dan idenya pada ajang lomba Innovative Entrepreneurship Challenge pada tahun 2007. Ternyata tim juri mengapresiasi idenya dan mereka bisa mendapatkan juara 1. Berbekal dana hadiah sebesar Rp15 juta, Irda dan teman-temannya terus menyampaikan ide tersebut pada berbagai sekolah.

Dengan bekal kemenangan di ITB dan surat yang dikeluarkan rektorat Undip bisa menjadi jalan bagi Irda untuk mendapatkan 2 jam mengajar tentang kewirausahaan. Namun lagi-lagi, anak-anak pun awalnya kurang suka dengan materi tersebut.

Kegigihan Irda dan timnya dalam mengkampanyekan kewirausahaan memang perlu mendapat acungan jempol. Alasan kuat yang membuatnya terus bersemangat adalah ingin membuat anak-anak Indonesia lebih percaya diri dengan menguasai bisnis sejak dini.

Karena harus mengubah mindset, perlu waktu yang panjang untuk memberi pemahaman. Berbagai pelatihan ringan kewirausahaan terus dilakukanya, seperti meminta peserta didik untuk membeli bahan, membuat produk, kemudian menjualnya. Selanjutnya mereka harus menghitung keuntungan yang diperoleh.

Dengan pelatihan sejak anak-anak, harapannya peserta didik bisa menjadi pebisnis yang handal dan tangguh, tidak mudah menyerah atau tumbang keran banyaknya masalah. Ide dan semangat yang dimiliki oleh Irda berawal ketika melihat film kartun tentang anak yang sangat paham mengelola saham namun tidak kehilangan masa bermainnya.

Untuk membuat anak-anak ini lebih mudah paham mengenai konsep bisnis, tidak jarang Irda mengajak mereka untuk praktek dan memberikan analisa dari kegiatan bisnis tersebut. Sebagai contoh pada usaha aksesoris manik-manik, ketika ada yang menyebutkan untuk membeli gunting, yang lain menanyakan kenapa harus beli jika bisa menggunakan yang ada.

Dari dialog ini dapat ditarik pemahaman bahwa dalam bisnis harus mampu menggunakan semua potensi yang ada. Jika bisa berhemat untuk mendapatkan banyak keuntungan, kenapa tidak dilakukan.

Beda daerah, beda mindset tentang bisnis. Di sekolah perkotaan Irda lebih mudah menyampaikan konsep kewirausahaan, bahkan ketika mengajari anak-anak didik mendapat bayaran. Dana ini yang digunakan untuk operasional secara subsidi silang pada daerah yang secara ekonomi terbatas.

Apa yang dilakukan Irda mungkin belum terasa saat ini, namun bakal menjadi bekal untuk kemandirian siswa setelah dewasa. Dampak dan manfaatnya sangat besar. Irda mampu menggali ide dan berkontribusi bagi masyarakat. Hal ini yang membawanya mendapatkan anugerah satu Indonesia award, sebuah apresiasi dari Astra.

Astra concern dengan aksi anak mudah yang mampu membawa perubahan menuju hal bagi bagi masyarakat sekitarnya. Jika Irda bisa melakukan banyak hal dan melawan kemustahilan dengan meyakinkan banyak pihak, kita pasti juga bisa.

Mari kita manfaatkan semangat, energi dan kemampuan untuk kemajuan Indonesia. Satu langkah kecil yang kita lakukan saat ini dapat memberi kontribusi besar pada bangsa Indonesia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *