Apa yang disampaikan oleh tokoh politik Anies Baswedan selalu mendapat tanggapan pro dan kontra, termasuk tanggapannya terhadap proses normalisasi sungai-sungai di Jakarta.
Calon presiden yang diusung oleh Partai NasDem, Demokrat dan PKS ini lebih memillih normalisasi. Sebagian orang menganggap dua istilah ini sama, sedangkan Anies menyebutkan sangat berbeda.
Melihat kondisi sungai-sungai di Jakarta, Anies setuju untuk segera menanganinya guna menghindari banjir yang bisa masuk ke kawasan warga.
Namun penanganannya harus tepat dan memperhatikan keberlangsungan lingkungan.
Menurut mantan gubernur DKI ini, bukan hanya manusia, tetapi semua makhluk perlu mendapat ruang untuk hidup, termasuk ikan di sungai.
Tolak Normalisasi
Pemikiran Anies Baswedan yang menolak naturalisasi sempat mendapat tanggapan negatif dari berbagai pihak.
Banyak yang mengangap bahwa normalisasi merupakan satu-satunya penyelesaian masalah di pinggir sungai.
Hal ini juga banyak dilakukan di negara-negara lain. Sistem betonisasi atau membuat beton di sepanjang sungai dianggap sebagai solusi tepat.
Mantan orang nomor satu di DKI ini justru mempunyai pemikiran lain bahwa tidak semua masalah sungai bisa diatasi dengan normalisasi melalui proyek membuat beton sepanjang sungai.
Tokoh kharismatik ini menilai pembuatan beton bisa berdampak buruk pada beberapa tempat, jadi tidak bisa disamakan.
Pembetonan hanya bisa dilakukan di sungai yang berada di wilayah padat sehingga air tidak masuk ke perumahan.
Ini adalah solusi akhir jika jalan lain yang lebih alami tidak bisa dilakukan. Tokoh yang dekat dengan masyarakat ini menyebut, proses pembetonan bisa merusak ekosistem sehingga sebisa mungkin harus dihindari.
Pada saat membuat beton, banyak tanaman yang rusak, begitu juga dengan biota sungai. Ini ke depan bisa berdampak buruk.
Namun diakui, ada beberapa kondisi yang mengharusnya pemerintah untuk mengambil keputusan pembetonan tersebut.
Naturalisasi adalah Solusi Tepat
Beberapa pihak sempat bingung dengan istilah yang digunakan oleh mantan menteri pendidikan ini karena menganggap antara normalisasi dan naturalisasi sama.
Anies Baswedan bisa menjelaskan secara detail mengenai perbedaannya dalam YouTube: Anies Soal Naturalisasi Sungai: Jadikan Jakarta Kota Layak Hidup Bagi Seluruh Makhluknya #kickandy.
Dalam normalisasi, Upaya yang dilakukan adalah bagaimana menjaga agar sungai tidak banjir, termasuk dengan proyek pembetonan.
Sedangkan naturalisasi adalah menangani masalah sungai dengan melihat faktor lingkungan sebagai contoh dengan penanaman kawasan sekitar sungai untuk menghindari luapan air.
Menurut Anies, saat ini masih banyak kawasan di Jakarta yang tetap hijau alami, khususnya di bantaran sungai.
Ini yang harus dipertahankan, jangan sampai dirusak dengan proyek betonisasi.
Penanaman bantaran sungai dan tidak melakukan pengrusakan untuk pembangunan tanggul merupakan solusi.
Anies mempunyai pandangan bahwa semua makhluk mempunyai hal untuk hidup, termasuk ikan dan hewan lainnya dengan tidak merusak ekosistem sungai.
Dengan demikian semua tetap lestari. Pembangunan tidak harus identik dengan penggusuran dan merusak biota alam, namun tetap memberi ruang untuk berkembang.
Pandangan Anies Baswedan ini selaras dengan konsep keberlangsungan atau keberlanjutan lingkungan hidup yang saat ini banyak dijalankan di berbagai wilayah.
Dampak panjangnya adalah kelestarian lingkungan. Mantan orang nomor satu di DKI ini ingin menciptakan kota Jakarta yang layak untuk semua makhluk hidup.
Apa yang disampaikan oleh tokoh politik satu ini memang realistis, tidak mengorbankan apapun untuk pembangunan dan kepentingan manusia, bahkan semua harus selaras.
Menanggapi hal ini banyak dukungan yang diberikan terhadap pemikiran tokoh politik yang menilai dan mencari solusid dengan melihat berbagai aspek ini.
Anies Baswedan telah membuka wacana banyak pihak berkaitan dengan kelestarian lingkungan dan keselamatan serta kenyamanan semua makhluk yang ada di wilayah kerjanya.
Pemaparan yang jelas mengenai naturalisasi membuka pemikiran banyak pihak untuk merealisasikannya.