Hotel yang memasang tulisan “eco-friendly” belum tentu benar-benar menjalankan praktik ramah lingkungan. Bisa saja hotel tersebut hanya mengganti sedotan plastik dengan sedotan kertas, menyediakan tempat sampah terpisah, atau memasang poster ajakan menghemat air. Padahal, hotel yang benar-benar berkelanjutan seharusnya menerapkan prinsip tersebut dalam berbagai aspek operasionalnya.
Hal ini penting diperhatikan wisatawan yang ingin menerapkan sustainable tourism. Lantas, bagaimana cara membedakan hotel yang benar-benar eco-friendly dengan yang sekadar menggunakan label hijau? Berikut beberapa cirinya.
1. Memiliki Target Penggunaan Energi yang Terukur
Salah satu indikator penting adalah bagaimana hotel mengelola konsumsi energinya. Hotel yang serius terhadap keberlanjutan biasanya tidak hanya meminta tamu mematikan lampu ketika meninggalkan kamar, tetapi juga melakukan efisiensi pada skala operasional.
Contohnya meliputi penggunaan lampu hemat energi, sensor otomatis, peralatan berdaya rendah, sistem pengaturan suhu yang efisien, hingga pemanfaatan energi terbarukan seperti panel surya.
UN Tourism bahkan pernah menjalankan program efisiensi energi di Pangandaran, Indonesia, yang mencakup penerapan teknologi efisiensi energi dan energi terbarukan pada hotel serta bangunan publik.
Karena itu, jangan hanya melihat apakah hotel memiliki panel surya. Perhatikan apakah hotel juga memiliki kebijakan atau target yang jelas mengenai pengurangan konsumsi energi.
2. Penggunaan Air Tidak Hanya Mengandalkan Imbauan kepada Tamu
Hotel menggunakan air untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kamar mandi, pencucian linen, kolam renang, dapur, hingga penyiraman taman. Artinya, penghematan air tidak cukup hanya dilakukan dengan memasang kartu bertuliskan “gunakan kembali handuk Anda”.
Menurut laporan observatorium pariwisata UN Tourism, penggunaan air dalam akomodasi mencakup kebutuhan kebersihan, taman, kolam renang, spa, serta pencucian kamar dan linen. Pengelolaan air limbah juga penting karena pembuangan yang tidak ditangani dapat berdampak pada ekosistem.
Karena itu, hotel yang serius terhadap pengelolaan air dapat memiliki sistem yang lebih menyeluruh, mulai dari pemantauan konsumsi hingga pengolahan air limbah. Dalam praktiknya, kebutuhan tersebut dapat berkaitan dengan teknologi dan layanan water treatment Indonesia, terutama ketika hotel perlu memastikan air limbah dari berbagai aktivitas operasional telah ditangani sebelum dilepaskan kembali ke lingkungan. Dengan demikian, keberlanjutan tidak hanya bergantung pada seberapa sedikit air yang digunakan, tetapi juga bagaimana hotel mengelola air setelah digunakan.
Hotel yang lebih serius biasanya memiliki perangkat hemat air, pemantauan konsumsi, pemeliharaan instalasi secara berkala, atau sistem penggunaan kembali air untuk kebutuhan tertentu.
3. Pengelolaan Sampah Dilakukan dari Sumbernya
Tempat sampah dengan beberapa kategori memang merupakan pertanda baik, tetapi belum cukup untuk membuktikan sebuah hotel benar-benar ramah lingkungan.
Hotel yang serius biasanya berusaha mengurangi sampah sejak awal, bukan hanya mengelolanya setelah sampah dihasilkan. Misalnya dengan mengurangi kemasan sekali pakai, menggunakan amenitas kamar berukuran besar, menghindari kemasan yang tidak diperlukan, serta menerapkan sistem pemilahan dan pengolahan sampah.
Dalam kriteria hotel GSTC, praktik seperti menghindari plastik sekali pakai, mengurangi barang sekali pakai, menghindari kemasan berlebihan, dan menggunakan pembelian dalam jumlah besar ketika memungkinkan termasuk bagian dari indikator keberlanjutan.
Jadi, hotel yang benar-benar eco-friendly seharusnya dapat menjelaskan ke mana sampah mereka berakhir, bukan sekadar menyediakan tempat sampah terpisah.
4. Tidak Hanya Mengandalkan Produk “Hijau”
Penggunaan amenities berbahan alami atau furnitur dari material daur ulang memang menarik. Namun, satu atau dua produk ramah lingkungan tidak otomatis membuat keseluruhan hotel berkelanjutan.
Justru, wisatawan perlu melihat gambaran yang lebih besar. Apakah hotel mengurangi penggunaan plastik? Bagaimana mereka mengelola air dan energi? Apakah pe1masoknya juga memiliki standar keberlanjutan? Bahkan elemen dekorasi pun dapat diperhatikan, misalnya apakah hotel memilih tanaman lokal atau material yang lebih bertanggung jawab untuk dekorasi, termasuk ketika menggunakan standing flower pada area lobi atau acara tertentu.
GSTC memasukkan aspek rantai pasok dalam kriteria hotel. Salah satunya adalah adanya persyaratan keberlanjutan dalam kontrak dengan pemasok dan evaluasi terhadap dampak lingkungan pemasok tersebut.
Artinya, keberlanjutan seharusnya tidak berhenti di dalam kamar hotel.
5. Memiliki Sertifikasi yang Jelas, Bukan Sekadar Logo Hijau
Sertifikasi dapat menjadi salah satu cara praktis untuk menilai klaim keberlanjutan sebuah hotel. Namun, jangan langsung percaya hanya karena melihat logo berwarna hijau.
Yang perlu diperiksa adalah siapa yang memberikan sertifikasi, standar apa yang digunakan, dan aspek apa saja yang dinilai.
FTC memperingatkan bahwa klaim lingkungan yang terlalu umum seperti “green” atau “eco-friendly” sulit dibuktikan apabila tidak disertai informasi spesifik. Sertifikasi juga seharusnya menjelaskan dasar atau aspek lingkungan yang menjadi alasan pemberian sertifikat tersebut.
Dengan kata lain, sertifikasi yang kredibel lebih berarti daripada sekadar stiker “green hotel” di halaman depan website.
6. Melibatkan Masyarakat dan Ekonomi Lokal
Eco-friendly bukan hanya persoalan emisi, plastik, dan penggunaan air. Keberlanjutan pariwisata juga memiliki dimensi sosial dan ekonomi.
Hotel yang serius biasanya berupaya melibatkan masyarakat sekitar, misalnya melalui perekrutan tenaga kerja lokal, penggunaan produk dari pemasok setempat, atau kerja sama dengan komunitas lokal.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep pariwisata berkelanjutan yang tidak hanya mempertimbangkan dampak lingkungan, tetapi juga aspek sosial dan ekonomi destinasi.
Jadi, jika sebuah hotel mengklaim berkelanjutan tetapi hampir seluruh aktivitas ekonominya tidak memberikan manfaat berarti bagi masyarakat sekitar, klaim tersebut layak dilihat lebih kritis.
7. Berani Menunjukkan Data, Bukan Sekadar Slogan
Ini mungkin menjadi ciri paling mudah digunakan wisatawan untuk membedakan hotel yang benar-benar serius dengan yang hanya melakukan greenwashing.
Hotel yang memiliki program keberlanjutan yang matang biasanya lebih mudah menjelaskan apa yang telah mereka lakukan. Misalnya, berapa konsumsi energi yang berhasil dikurangi, bagaimana penggunaan air dipantau, berapa banyak sampah yang dialihkan dari tempat pembuangan akhir, atau standar sertifikasi apa yang mereka gunakan.
Sebaliknya, klaim seperti “kami peduli lingkungan” tanpa data atau penjelasan yang dapat diverifikasi sebaiknya tidak langsung dipercaya.
FTC menekankan bahwa klaim mengenai manfaat lingkungan harus didukung bukti ilmiah yang kompeten dan dapat diandalkan.
Jangan Terpaku pada Label “Eco-Friendly”
Memilih hotel ramah lingkungan ternyata membutuhkan sedikit lebih banyak riset daripada sekadar mencari kata “green” atau “eco-friendly” di halaman pemesanan.
Perhatikan bagaimana hotel mengelola energi, air, sampah, rantai pasok, sertifikasi, serta hubungan dengan masyarakat lokal. Semakin transparan hotel dalam menjelaskan kebijakan dan hasilnya, semakin mudah wisatawan menilai apakah komitmen keberlanjutannya benar-benar diterapkan.
Pada akhirnya, hotel eco-friendly bukanlah hotel yang paling banyak menggunakan warna hijau dalam promosinya. Hotel yang lebih layak disebut berkelanjutan adalah hotel yang mampu menunjukkan bahwa prinsip ramah lingkungan sudah menjadi bagian dari cara mereka beroperasi.